Hari ini ku rasakan kehadiranmu. Diantara kicauan burung dan mentari yang mulai menghangat, ku tuliskan ini untukmu”.

Papa,

Waktu kecil, aku ingat papa selalu terbangun lebih pagi dari semua anggota keluarga. Aku terjaga tiap kali mendengar suara keran air yang dibuka. Aku tahu papa bersiap ibadah sebelum berangkat mencari nafkah.

Aku ingat papa sibuk bekerja, begitu pula mama yang rajin membangun usaha di rumah. Hingga jarang ku lihat mama dan papa menghabiskan waktu bersama. Saat itu tak ku pahami sebabnya.

Papa,

Aku tahu papa menganggap mama terlalu dingin. Ia tak ekspresif menunjukkan rasa sayangnya. Dan tiap kali ia mulai bercerita tentangmu, tak jauh dari kekesalan & penyesalan yang ku dengar.

Tapi tahukah papa? sedemikian rupa mama membenci hingga sosokmu tak tergantikan.

Mama amat membencimu. Karena papa terlalu berarti baginya.

Aku ingat senyuman papa, yang seolah tak pernah lelah mengembang. Namun papa tak banyak beri ku gambaran dan pelajaran tentang kehidupan. Aku pun kadang merasa kehilangan kehadiran papa yang seakan berada di dimensi lain tiap kali menginjakkan kaki keluar rumah. Begitu pula yang mama rasakan.

Papa,

Mama telah melahirkan, mendidik dan membesarkan aku dengan sekuat tenaganya. Meski papa jarang pulang ke rumah karena tugas di luar kota, mama begitu tangguh menikmati hidupnya dan mengurusku.

Mama juga telah banyak bersabar ketika mendapatimu sulit untuk setia. Ia berusaha menyelamatkan rumah tangganya dengan berbagai cara. Mama bisa meradang, melemparkan barang-barang, mencaci makimu dan bahkan mengancammu mati.

karena mama telah percayai sisa hidupnya denganmu.

Semakin sering papa berkhianat, rumah kita seakan porak poranda. Aku terluka karena melihat mama yang menderita batinnya. Aku tahu seberapa sering papa mendustai mama, dan seberapa sering pula papa tertangkap basah, hingga suatu hari mama memutuskan untuk tak lagi butuh papa.

Papa, 16 tahun telah berlalu…

Berbagai fase kehidupan telah dilewati semenjak kepergianmu, dan tak kan selesai jika kutulis dalam selembar paragraf, namun aku ingin papa tahu betapa peliknya perjuangan mama yang mati-matian waktu itu – dengan ataupun tanpamu.

Kini usia mama tak lagi muda, dan mama juga sudah ditemani cucu yang luar biasa. Mungkin nanti jika sedang rindu-papa bisa mengintip mereka yang tengah bercengkrama diantara kicauan burung dan hangatnya mentari pagi.

Dan untuk papa, kukirimkan doa.