Seperti halnya undian berhadiah, aplikasi kencan online sifatnya “untung-untungan”. Ibarat sebuah hutan, setiap aplikasi dihuni berbagai macam profile individu dengan beragam kepentingan dan tujuan yang berbeda. Mulai dari yang mencari pasangan, ttm, networking hingga berbagai bentuk promosi jasa legal maupun illegal.
Berikut aplikasi dating site yang paling banyak digunakaan berdasarkan jumlah download googleplay:

  1. Tinder
  2. Bumble
  3. Ok cupid
  4. Tagged
  5. Badoo
  6. Coffee meets Baggle
  7. Waplog
  8. Happen
  9. Tagged
  10. Plenty of Fish

Tinder misalnya, Aplikasi ini launching pada akhir tahun 2012. Pertamakalinya hanya ada di IOS lalu kemudian muncul di Android. Rata-rata dating app memerlukan akses dari facebook lalu diikuti dengan email dan nomor telepon untuk sign in. Namun, beberapa tahun kebelakang Romansa digital ini mulai terasa jenuh.

Dilansir dari sebuah survey anonim diantaranya mengatakan bahwa banyak yang menemukan profile yang “itu-itu saja orangnya”.

Banyak sekali terdapat orang yang sama dalam situs kencan yang berbeda. Selama bertahun-tahun seakan profile mereka tidak lulus juga dari aplikasi tersebut. Lalu apakah aplikasi kencan online ini memang tepat bagi yang ingin menemukan cinta atau hanya sebuah platform pencari kenalan?

Aplikasi dating online adalah cara paling cepat untuk bertemu dengan banyak orang tanpa bertatap muka, sehingga tak jarang jika ada profile menarik tertimbun oleh profile lain yang “match” dengan si pengguna. Hal ini membentuk pola perilaku pengguna untuk tidak berhenti mencari. Ada pula pengguna yang bertukar nomor telpon akan tetapi tidak pernah mengobrol, ada juga yang tiba-tiba menghilang dan hanya sedikit pula yang berlanjut menjadi suatu hubungan.

Aplikasi kencan online -tempat basa-basi?

Kemudahan seperti ini membentuk kebiasaan terhadap pengguna yang seakan tak pernah merasa puas dan bahkan tak dapat menemukan apa yang mereka cari. Lain hal bagi yang menggunakannya untuk have fun, kencan singkat misalnya. Secara tak langsung kebiasaan ini membentuk pola “pecandu” bagi mereka yang kerap mencari kenalan untuk kesenangan lewat online.

Selama tidak ada yang merasa dirugikan maka akan menguntungkan buat kedua belah pihak, namun apabila digunakan tanpa sepengetahuan ataupun persetujuan pacar, suami, istri misalnya-hal ini akan memberi dampak negatif pada kehidupan nyata.

Berteman dengan dunia maya kadang menyenangkan tetapi juga dapat melelahkan. Pada akhirnya pengguna harus memutuskan kapan ingin ‘graduate’ dari aplikasi kencan tersebut.