Versi Inggrid:

Liam, pemuda yang ia kenal selama 5 bulan terakhir benar-benar membuatnya bertanya-tanya. Pertamakali mereka bertemu di sebuah aplikasi dating site. Daya tarik pria itu cukup kuat meski saat itu ia belum pernah bertemu.ia yang sudah keseringan patah hati seakan pesimis dalam memandang cinta. Selain itu Liam seakan ‘too good to be true’ buatnya. Terkadang ia mempertanyakan dirinya sendiri, apa ia memang berhak atas cinta?

Inggrid semakin berhati-hati sejak di khianati oleh mantan kekasihnya dulu, namun inggrid tetap tak dapat memungkiri, jauh di lubuk hatinya ia mendambakan belahan jiwa. Beberapa kali ia menghindari ajakan Liam untuk bertemu. Ia menimbang-nimbang perasaanya.Apakah betul pria itu memang tertarik padanya ataukah sebatas penasaran?” Pernah Inggrid mengatakan bahwa sebaiknya Liam berhenti chatting dengannya karena sebetulnya ia takut kalau pria itu nanti akan mengambil hatinya lalu menghempaskannya pergi. Inggrid menghindar, namun semakin hari ia justru kepikiran.

Akhirnya ia memutuskan untuk memberi dirinya kesempatan sekali lagi. Ia menghubungi Liam. Ia mendengar niat Liam yang hendak meninggalkan indonesia. Pria itu berencana untuk bekerja diluar negeri dan memulai hidup baru disana, selamanya. Liam mengatakan bahwa targetnya harus tercapai tahun depan. Lagi-lagi Inggrid menjadi bingung, apakah betul Liam akan mengajaknya pergi, begitu berartinya kah ia bagi pria itu? lama- kelamaan kehadiran Liam membuatnya merasa terhibur.

Liam membuat hari-harinya tak terlalu sepi. Akan tetapi tak jarang pula ia sering bersinggungan pendapat dengan Liam. Lagi-lagi Inggrid gundah – dapatkah ia melanjutkan chat tersebut menjadi hubungan yang serius? Iaakhirnya bertemu Liam pada suatu sore. Saat itu ia berusaha terlihat cuek agar Liam tak segera masuk kedalam hatinya. Namun tatapan mata pria itu seakan membiusnya. Pertemuan singkat di sebuah cafe memberi kenangan tersendiri yang ia bawa pulang. Inggrid baru menyadari bahwa ia memang menyukai pria itu. Tapi apakah Liam juga merasakan hal yang sama?

Sejak saat itu Inggrid semakin menanggapi Liam. Inggrid selalu excited setiap setiap ada pesan yang masuk darinya. Rasa rindu pun kian muncul. 2 minggu setelah pertemuan pertama, kali ini Inggrid yang mengajak Liam bertemu lagi, Inggrid mendatangi liam di tempat tinggalnya. Pertemuannya yang ke-2 kalinya semakin berkesan, inggrid tak ingin lagi menyembunyikan perasaannya terus-menerus.

Selang sebulan berlalu, Inggrid menanti Liam untuk mengajaknya bertemu. Namun pria itu tampaknya selalu sibuk, termasuk saat weekend. Liam menjelaskan bahwa ia sedang berjuang mempersiapkan masa depannya, oleh karena itu ia tak berhenti mengorbankan waktunya hanya untuk belajar. Jadwal liam sangat ketat dan disiplin hingga Liam tak dapat memastikan kapan ia bisa bertemu lagi dengannya. Inggrid pun sedih. Ia merasa di kesampingkan. Tak ada ruang untuknya. Dalam hatinya ia selalu memendam rasa kangen. Sesibuk itukah Liam, ujarnya. sampai-sampai tak tahu kapan bisa menemuinya? Dan tak bolehkah Ia datang mengunjunginya sesekali?

Beberapa waktu Inggrid bisa bersabar, namun ia terkadang ia juga ingin menghabiskan waktunya bersama Liam. Iapun mulai ragu apakah liam betul-betul serius terhadapnya, dan seringkali pikirannya berkecamuk hingga membuatnya ingin mengakhiri hubungan. Inggrid menjadi sering mengucap kata perpisahan.

Keadaan tersebut sangat memusingkan buat Inggrid. Rasanya seperti tak dipedulikan. Suatu ketika ada sebuah momen yang menyebabkan Inggrid sangat marah, karena Liam sangat sibuk, bahkan untuk menanggapinya dalam chat, padahal ia sangat membutuhkan support nya saat itu, akan tetapi Liam mengatakan bahwa hari itu ia sedang super hectic di kantornya. Inggrid kecewa dan berpikir kalau Liam hanya peduli dengan kepentingannya saja. Liam jelas menaruh Inggrid di nomor sekian dalam hidupnya.

Inggrid yang tak merasa cukup diperhatikan semakin banyak melontarkan keluhannya kepada Liam, dan di hari itu ia melontarkan statement keras yang telah menyinggung perasaan sehingga Liam malas menanggapi. Inggrid menangis berhari-hari. Sebetulnya hanya ingin dicintai, dipentingkan sesekali, dan ingin merasa cukup disayang. Inggrid juga menyesal karena ucapannya kasarnya tak mampu yang merubah perasaannya terhadap pria itu.

Dalam hatinya masih ber-angan jika ada tempat untuknya, bahwa ia masih termasuk dalam rencana hidup Liam. Untuk kesekian kalinya ia meminta maaf. Rasa bersalahnya selalu muncul tiap kali mengucapkan selamat tinggal. Namun kali ini Liam tak memberi banyak komentar. Inggrid pasrah. Rasa rindunya bercampur dengan sepi. Sampai sekarang ia tak tahu apa yang ada di benak Liam. ia pun mulai terbiasa.