Part III: Dicky dan Ollin

Dimana ada Emma, disitu ada Ollin

Ollin adalah tipe cewek girly yang jago dandan dan sangat fashionable. Rambut ikal kecoklatan yang hampir pirang membuat paras orientalnya semakin tampak bersinar.
Selain itu ia juga centil dan lincah. Emma dan Ollin begitu kontras, dan mungkin itulah mengapa mereka bisa dekat. Dicky tahu kadang Emma suka menginap di rumah Ollin yang megah. Ollin memang terlahir kaya raya.

Entah kenapa Ollin kadang memandang sinis apabila Dicky memperlihatkan perhatiannya pada Emma.
Mungkin Ollin cemburu jika temannya itu didekati olehnya. Ollin adalah anak satu-satunya di keluarga, mungkin itu juga yang membuat Emma seakan seperti saudarinya sendiri. Ataukah mungkin sebaliknya?

Ollin naksir dengan Dicky??

Suatu hari akhirnya ia memberanikan diri mengajak Emma berkencan. Ia berencana menjemputnya dari kos-kosan.

Emma tidak menolak ketika diajak, namun raut wajahnya seakan menyimpan sesuatu malam itu. Dicky hendak mengatakan hal yang selama ini ia simpan. Walau sempat ragu, akan tetapi apa yang ia rasakan jauh lebih besar dibandingkan dengan gengsinya. Setidaknya Dicky ingin hatinya juga lega.

Emma: “lo beneran serius Dicky?”

Dicky: “iya aku serius. Sejak pertama kali gabung di radio, aku udah suka sama kamu”

Emma: “hmm..okay, tapi gw ga tahu harus jawab sekarang ini..”

Dicky : “jujur aku juga bingung..kamu mau pkiri-pikir dulu? atau menurut kamu..kita jalanin aja dulu?”

Dicky bernada sedikit memaksa. Sebetulnya ia tidak ingin juga memaksakan perasaannya, namun ia juga tak siap mendengar penolakan. Ia juga belum tahu apa yang akan terjadi besok, hal semacam ini akan cepat menjadi gosip di lingkungan kampusnya. Dicky menatap mata bulat Emma dengan penuh harap.

Emma: ” hmm..gw belum bisa jawab sekarang”, ujar Emma lirih.

Emma: “Gw juga suka sama lo, tapi kayaknya gw harus tanya pendapat Ollin dulu deh”

Dicky: “Ohh..kamu mau tanya Ollin dulu?”

Dicky tak berharap nama Ollin terdengar di tengah percakapan. Kenapa harus Ollin? Ya, Dicky tahu kalau mereka adalah best friend, tetapi bukankah ini menyangkut hati Emma sendiri? Meski Emma meminta pendapat dari sahabatnya itu, bukan berarti jawabannya datang dari yang Ollin pikirkan kan? pikir Dicky lagi.

Dicky menghela nafas lalu tersenyum. Ia tak mau malam indahnya itu jadi gagal total. Ia berusaha mengubah cara berpikirnya.

Dicky : ” hehe Emma, ya lah kamu boleh cerita, aku tahu kamu pasti butuh waktu. Aku udah seneng kok bisa dekat sama kamu seperti sekarang ini”

Dicky membawa pulang kenangan baru malam itu. Sejujurnya dia juga deg-deg an dengan apa yang akan terjadi besok. Pastinya tidak lama lagi teman-teman satu geng nya akan tahu..

………………..

Keesokan hari seperti biasa jadwal kampus yang padat ia jalani. Dan siang itu ia harus kembali ke radio. Tapi di hari ini ia tak melihat Emma. Jadwal Emma digantikan oleh announcer lain.
Ollin juga tak kelihatan batang hidungnya. Dicky bertanya-tanya kemana mereka berdua. Ia pun mulai berpikir sana-sini sambil menyalakan sebatang rokok.

Tak lama kemudian Baron dan Lukas menghampiri.

Baron: ” Hey bro, sepi juga ya hari ini, cewek-cewek pada kemana?

Lukas: ” udah gw BBM tadi, katanya Ollin pergi sama Emma, si Ollin ada audisi nge-dance gitu”

Dicky: “…”

Ekpresi wajah Dicky terlihat datar. Sudah sejam lalu ia BBM (blackberry messenger) tapi cuma di read saja oleh Emma. Pikiran Dicky semakin berputar. Apa semalam ia telah melakukan hal yang salah? Tapi kenapa keduanya sampai tidak muncul di kampus hari ini?
Lalu mengapa Emma tak membalas pesannya?

Lukas menepuk bahu Dicky;

Lukas: “kenapa lo bro”

Dicky terdiam, ia lumayan terpancing ingin memuntahkan kata-kata. Dicky semakin merasa buntu dan perlu orang lain meluapkan kegalauannya.
Kali ini ia tak peduli lagi reaksi apa yang akan ia dapatkan. Dia tak lagi bisa mempertahankan gengsi, apalagi rahasianya.

Ia pun bercerita kepada Baron dan Lukas..

Part IV: Dicky-Emma-Ollin

6 bulan kemudian

Dicky, Baron dan lukas baru saja selesai makan siang. Mereka nongkrong sebentar di kantin langganan. Thesis mereka sudah berjalan. 3 bulan lagi mereka harus bersiap melaksanakan sidang. Target Dicky untuk wisuda harus tercapai tahun ini, ia berniat untuk hijrah ke Jakarta dan bekerja disana.

6 bulan berlalu dan kini mereka lebih sering jalan ber-3. Antara terbiasa dan tidak, ia sudah semakin jarang bertemu muka dengan Emma. Tidak mudah buat Dicky dengan apa yang dialaminya beberapa bulan kemarin. Ya, Dicky masih berteman baik dengan mereka tapi
Bisa ditebak jika enam bulan yang lalu tak sesuai dengan harapan Dicky..

Flash back…

Baron: ” gw ngerti perasan lo Bro. Dari dulu gw bisa nangkep cara lo ngobrol sama Emma- beda ketika lo bicara sama ollin”.

Lukas: ” jujur nih, pas awal-awal gw sempat suka Ollin, tapi apa mau dikata, gw gak ada potongan cowok Jepang-nya, jadi mending gw jadi temennya aja, hahaha”

Baron: ” ini mungkin yang namanya friendzone, udah kadung temenan, biasanya susah buat dijadiin pacar”

Dicky: “tapi, kemana ya mereka berdua? apa jangan-jangan ada hubungannya sama yang semalam?”

Lukas: “tapi gw salut sama lo bro” sambil mengangkat tangan untuk high five dengan Dicky yang tertunduk sedih.

Baron: ” kalau kata gw ada 2 kemungkinan, antara Emma ga siap atau bisa jadi kalau Ollin yang sebenernya suka sama lo, jadi Emma menghindar dari lo”

Dicky terdiam. Dia tak percaya dengan kalimat terakhir yang terlontar dari Baron. Ollin memang sering membuatnya sulit mendekati Emma, tapi ia tak yakin jika alasannya karena Ollin suka padanya. Ollin egois sekali pikirnya, tapi kenapa juga Emma juga seakan nurut padanya.

Emma menuruti apa kata Ollin.

Sedekat apa sih hubungan mereka? sampai-sampai Ollin bisa mengatur siapa yang bisa dekat dengan Emma?

Ada apa sebetulnya yang terjadi antara Ollin dan Emma?

Emma yang tomboy 》《 Ollin yang girly.
Emma yang mandiri 》《 Ollin yang manja. Emma yang tenang 》《 Ollin yang centil.
Emma yang penurut 》《 Ollin yang protektif..

DAN Dicky tahu mereka berdua sama-sama tak punya pacar.

Astaga! Dicky berusaha menghentikan pikirannya, seketika otaknya terasa korslet. Ia tak ingin memprediksi lebih jauh lagi. Pikirannya seolah ingin ia kosongkan.

No way! Mereka bukan sepasang kekasih!
Ia berusaha menghentikan suara kecilnya. Dicky bergolak dengan batin.
Lagipula apa buktinya??

Flash back off..

Tak pernah ada buktinya hingga detik ini. Hanya saja Dicky merasa hampa.
Ia tak habis pikir dengan kejadian tersebut, sampai-sampai ia kesulitan untuk move on.

Part V: Dicky-mereka

Hari ini

Tak banyak yang berbeda dari Dicky, hanya saja ia terlihat lebih dewasa sekarang. Dan ia juga sudah bermukim di Jakarta dan menikmati pekerjaanya di bidang IT sejak 2013 lalu.

Terkadang ia teringat akan sesuatu yang membuatnya sempat trauma menjalin cinta. Ya, gadis itu Emma.

5 tahun yang lalu, tepatnya di tahun 2015, ia sempat berkomunikasi dengan cinta pertamanya itu. Emma menghubunginya lewat Facebook.
Emma sempat meminta maaf karena tak pernah menjawab pertanyaan Dicky.
Emma juga mengajaknya bertemu kapan-kapan jika ia ke bandung lagi.
Sebetulnya Dicky ingin tahu apa jenis hubungan yang Emma miliki dengan Ollin. Saat itu Ollin masih berada di Jepang melanjutkan kuliahnya.
Tapi Dicky mengurungkan niatnya itu.
Ia pun menyambut silaturahmi yang telah lama terhenti.

Dicky bertemu dengan Emma lagi.

Kali ini mereka sempat bertemu beberapa kali, semuanya terasa indah meski terpaut jarak antara Bandung dan Jakarta. Emma berbalik sangat perhatian dengan Dicky selama berbulan-bulan. Dicky merasa bahagia, hingga suatu hari Emma memberi kabar kalau Ollin akan kembali ke Indonesia akhir tahun.

Tepatnya di bulan Desember, Emma kembali menghilang tanpa kabar.
Dicky tak sanggup bertanya. Akal sehatnya menolak untuk teracuni. Ia merasa tak perlu menyakiti hatinya lebih dalam lagi.
Ia hanya menebak-nebak kalau Emma telah meninggalkannya lagi.

Untuk Ollin

hingga waktu itu ia melihat unggahan foto facebook Emma yang tengah berada di Jepang bersama Ollin saat tahun baru.

Hatinya terasa perih

Dicky pun berjanji pada dirinya untuk tak lagi mengingat Emma. Ia tak akan menggila dengan semua pikiran liarnya.
Dan tahun demi tahun berlalu hingga wabah Corona membolak-balik situasi dunia, Dicky masih tetap singleerkadang ia juga masih suka mengintip aktivitas Emma di Instagram.

Emma masih terlihat cantik buatnya, sama seperti dulu, gadis yang membuatnya jungkir balik penasaran. Dan setiap ada postingan foto Ollin di Instagram Emma, entah kenapa ia masih merasa kesal. Sebagai laki-laki ia merasa sedikit tercabik.
Ia merasa kalah dari gadis berparas jepang itu.

Ollin lah yang akan selalu memenangkan hati Emma, dan Dicky telah lama berhenti berkompetisi dengan Ollin sejak akhir 2015 lalu.

“Saat ini seolah dunia sudah semakin menerima atas perbedaan yang ada.
Meskipun tak semua insan manusia yang setuju termasuk dirinya, namun hingga sekarang hubungan Emma dan Ollin masih seperti rahasia, meskipun isi instagram Emma berkata sebaliknya”.