Anita tetap merasa sepi di kerumunan.

Kehidupannya yang kini mendadak jet-set juga tak mampu mendatangkan kebahagiaan. Seringkali Anita merasa gundah. Hingga tercium kabar bahwa ia telah resign dari kantornya pun suaminya acuh tak acuh. Sempat Anita ingin bercerai, akan tetapi ia urungkan niat demi status anak-anaknya yang masih membutuhkan ayah. Di sisi lain Anita yang sudah lama tak merasa diperhatikan semakin menaruh hati kepada laki-laki timur tengah tersebut.

Mohammed memang baik, dermawan, dan kaya raya, akan tetapi Mohammed juga telah memiliki 2 istri di negara yang berbeda dan seorang istri lagi yang berada di semarang. Anita adalah wanita ke-4 yang istimewa.
Mohammed mampu menafkahi kesemuanya dan juga anak-anaknya. Ia tidak punya masalah akan hal tersebut.

Anita yang mulai menggunakan perasaannya kini sering cemburu dan gelisah apabila Mohammed sedang mengunjungi istri-istrinya yang lain. Anita merasa kesepian. lagi.

Anita berusaha mengalihkan pikirannya dengan cara apapun jika Mohammed sedang tak di Jakarta. Ia akan pergi bersenang-senang dengan kawan-kawan sosialitanya hingga pagi, menghibur diri dengan berbelanja apapun meski kekosongan itu tak juga terisi.

Beberapa kali Anita sempat menangis di depan Mohammed. Kadang ia merasa terjepit dengan perasaannya yang tak terbendung. Mohammed juga sempat mengutarakan bahwa ingin menikahinya, namun Anita berstatus istri orang dan terlebih lagi mereka menganut agama yang bebeda.

Kegalauan Anita melonjak tiap kali Mohammed memberi tahu jika ia sedang berada di kota atau negara lain. Pikirannya tak karuan. Kadang alkohol dan musik hidup menjadi penawar kesedihan. Anita hanyalah wanita yang ingin dicintai.

Bulan demi bulan berlalu – tahun berganti

Anita mulai bosan dengan kemewahan yang seakan tak ada arti lagi. Tetapi ia juga menyadari, jika Mohammed ia lepaskan-besar kemungkinan ia tak dapat mempertahankan standar hidupnya dalam jangka waktu lama.

Anita tak ingin kehilangan. Ia pun merencanakan masa depannya.
Kedua bocah kesayangannya itulah cinta sejatinya. Di depan anak-anaknya Anita akan memilih menjadi sosok ibu yang baik, seorang ibu yang akan memberikan apapun demi cintanya. Anita juga takkan pernah memperlihatkan perangai kasar terhadap ayah dari anak-anaknya yang cuek itu.
Dan ia pun akan selalu menjadi wanita idaman Mohammed yang sabar menanti kehadirannya.

“Lalu kapan saja hatinya menjerit, Anita akan menangis sekeras mungkin di dalam fortuner miliknya. Ya ia memilih itu, dan tak menangis di dalam taksi”.