Ujar Anita Kepada Nabila:


“Menangis dalam fortuner atau menangis dalam taksi yang kamu lihat terus argonya?”


Meski Nabila lebih memilih menggunakan aplikasi transportasi kekinian yang lebih efisien, aman & terpercaya namun bukan itu yang Anita maksud.

Ia mencoba menjelaskan keadaan yang dialaminya beberapa tahun belakangan ini pada temannya itu.

Anita


Karirnya terbilang cukup melesat, selepas SMA dan menikah muda, ia memutuskan untuk bekerja. Mula-mula ia berprofesi sebagai staff outlet, kemudian menjadi team leader hingga akhirnya ia dipercaya oleh bos untuk mengecek setiap outlet yang berada di jabotabek sebagai supervisor business & development dari suatu perusahaan sneakers terkenal.
Selain cantik, Anita seorang pekerja keras, rajin, serta supel. Kelebihannya itu membuat ia memiliki banyak relasi dimana-mana.

Anita kini seorang career woman. Di usianya yang ke 34 tahun ia memiliki 2 anak dan pekerjaan yang sangat menyita waktu. Tapi jauh dalam hatinya Anita seakan merasa sepi di kerumunan.

Ia tak banyak berinteraksi dengan suaminya.


Pria dari jaman SMA nya itu seakan tenggelam dari dunianya. Mereka memang masih serumah bersama anak-anaknya, akan tetapi keduanya tidak lagi bertemu dalam satu ranjang. Terkadang mereka pun hanya berpapasan sesekali di ruang tamu dan dapur.

Anita tak menyesali hari dimana ia menerima lamaran suaminya. Hanya saja waktu itu Anita yang polos tak menyadari kalau ada banyak hal yang dunia bisa tawarkan padanya.

Anita kehilangan masa transisinya. Saat teman-temannya mulai berkuliah, ia tengah mengandung anak pertama. Beberapa tahun kemudian Anita mulai jengah dengan pengeluaran keluarga yang semakin tinggi sejak anak ke-2 nya lahir, sedangkan ia menilai cara suaminya mencari nafkah seperti tak ada gregetnya.

Tak disangka ketika Anita mulai bekerja, kebutuhan ia dan anak-anak mulai tercukupi, akan tetapi rasa cinta terhadap suaminya yang pendiam itu semakin tergerus waktu.

Pada suatu sore


Anita tengah duduk dalam starbucks sambil berbincang-bincang dengan seorang kawannya tiba-tiba saja disapa oleh seorang pria berperawakan timur tengah. Meskipun usianya sudah lebih senior kira-kira 15 tahun, tapi pria terlihat fashionable. Ia memperkenalkan diri, mengobrol sebentar lalu meninggalkan kartu nama di atas meja. Anita terpana. Kemudian pria itu bergegas keluar dari starbucks dan menaiki mobil dengan supir yang telah menantinya beberapa saat. kendaraan tersebut melaju pergi.

Temannya: “wow seriusan ganteng banget, kebapakan gitu, tajir lagi sepertinya”

Anita yang mulanya berpikir untuk menambah relasi bisnis kemudian menyetujui 100% kata-kata temannya.


Petualangan hidup Anita mulai bergulir setelah ia mengirimkan pesan whatsapp ke nomor yang tertera di kartu nama itu. Anita jadi sering bertemu dengan Mohammed yang sangat tertarik padanya.

Mohammed

Adalah pria kebangsaan arab yang berdomisili di Semarang. Ia seorang pengusaha furnitur yang kerap melakukan bisnis ekspor-impornya ke asia, Eropa dan Dubai.
Mohammed mengambil perhatian Anita dengan cepat. Sikapnya yang romantis, perhatian serta ringan tangan membuat Anita merasa terpenuhi.

Pria itu seakan membuat Anita jatuh cinta lagi. Dan kali ini semua sungguh berbeda dari cinta masa SMA nya. Mohammed tak segan-segan memanjakan Anita dengan segala kemewahan mulai dari emas, berlian, apartemen, mobil, hingga uang saku untuk sekolah, jajan dan jalan-jalan kedua anaknya. Disamping itu Anita juga dipercaya untuk membantu usaha Mohammed. Beberapa kali ia dan pria itu bepergian ke eropa dalam acara pameran furnitur yang sangat laku disana. Untuk pertama kalinya Anita berkunjung ke berbagai negara yang dulu bahkan tak terpikir dimana letaknya dalam peta.

Anita berhenti bekerja untuk outlet. Kini ia tak perlu berangkat pagi dan mobile hingga larut malam. Anita juga memulai pendidikannya kembali dengan mengejar S1 yang tak sempat ia lalui. Ia seperti mendapatkan kesempatan hidup yang ke-2

Namun,

(Bersambung…..)