Kutatap matanya yang berbinarSeolah menggodaku tuk mendekat Kuraih jemarinyaDan di malam hari kutunjukkan bintang-bintangNamun ku tiada wacanaTuk menjaga ia selamanyaKarena ku tak seperahuMimpinya belum menjadi mimpikuSempat ku terlenaTapi mentari esok lebih bercahayaApa yang tak ia pahami dari maksudku?Aku hanya ingin adil dengan waktu Kini matanya pun layuTergenang …
puisi
Kabut
Selimuti awan bergerak perlahanJejak menghilang tertutup kabutMenjelang gelap yang siap menjagaAkankah ku disana saat kau meratapi senja?
Kaca
Terdengar bunyi memecahSerpihan kaca terhempasTerjatuh di kedua pasang kakiKupungut sebagianMeski melukai jarikuKaca lainmu masih banyakTersembunyi disakuNamun cuma pecahankuyang menancap di dadamuTersimpan dalam diamHingga yang tersisa hanya ituDan kau selalu tahu kemana harus kau bawaMenyatukannya kembali, mengobati hatimu
Esok atau Lusa
Kabar tersiarkan,akan hilangnya mutiara-mutiaraYang hijau kekuningan,lembut tak bercangkang Sang petani tak lagi sibuk di waktu pagi Akan tiba waktunya yang merah kembali cerah Mungkin tak seindah senyummu,indah tak bergincu Sedikit buram tak mengapaAsalkan kuat untuk membuka Sampai esok atau lusa *diantara tembakau,teh dan tas punggung …
Satu-satunya
tak mungkin ku satu-satunyadari sekian banyak kaki yang melangkahlewati jalan sepi, tak berlampu..tangis dan pilu mereka pun punyameski tak semua bersuaratapi ku tahuaku bukanlah satu-satunya.
Ikrar
Ikrar terucap dari bibirnyaTangis bahagia kini ia temukanMengikat janji menjelang pagiTuk memeluk sore hingga malam lagiTak mengapa..Dalam heningTersimpan doa yang tersisaTeruntuk dirinya, semoga tiada lagi air mataKuingin ia tersenyumsebagaimana semestinyaSeperti yang selalu ia dambaMeski baginya aku tak pernah ada






